Langsung ke konten utama

Gita Hartanto - Leader Sukses Yang Memulai Dari Nol





Resep Sukses Gita Hartanto Membesarkan Bisnis Tim Amoeba Internasional
Nama Amoeba Internasional tidak akan pernah terlepas dari nama Gita ‘Tobing’ Hartanto. Pria kelahiran Jawa Timur ini meraih kesuksesan berkat menjalankan bisnisnya di QNET Indonesia. Seluruh hasil dan kekayaan yang didapatnya hingga hari ini adalah hasil kerja keras. Simak wawancara dengan beliau dalam menceritakan perjalanan hidupnya.


Sebelum bergabung dengan QNET, apa pekerjaan Anda?
Dulu saya benar-benar bukan siapa-siapa, tidak memiliki pekerjaan dan keterampilan apapun yang bisa dipakai untuk bekerja di perusahaan. Saya hidup di kota kecil di Jawa Timur bernama Trenggalek. Kala itu kehidupan perekonomian keluarga saya terjerat hutang. Orangtua saya harus bertransmigrasi ke pulau lain demi melunasi hutang yang banyak. Saya ditinggalkan mereka karena saya harus mengurus rumah yang saat itu akan disita oleh Bank. Untuk bertahan hidup, saya harus menjual kopi di pasar dekat rumah. Dalam satu hari, mendapatkan Rp10.000 bukanlah hal mudah. Saya harus berjualan dari pagi hingga sore hari.

  
Lalu kemudian bagaimana Anda bisa bergabung dengan QNET?
Waktu itu ada seorang teman yang menawarkan peluang bisnis. Setelah diberikan penjelasan, saya merasa tidak tertarik. Peluang bisnis itu menurut saya aneh sekali meskipun skema kompensasi terdengar menarik. Untuk mengerti kata-kata bisnisnya saja saya nggak ngerti. Namun teman saya tidak menyerah, keeseokannya ia membawa teman lain untuk menjelaskan kepada saya tentang bisnis ini yang kemudian saya ketahui bernama QNET.

Mulai saat itu saya merasa gelisah. Saya ingin bergabung ke bisnis ini, tapi saya masih punya banyak pertanyaan bagaimana sebenarnya cara menjalankan bisnis ini. Antara rasa ingin tahu dan rasa ingin bergabung bercampur aduk dengan kegelisahan saya. Saat itu saya tidak memiliki uang untuk bergabung di bisnis ini dan saya juga tidak ingin meminjam uang dari tetangga atau saudara saya. Sampai suatu hari, saya mendapat info bahwa ada bank daerah yang bisa memberikan pinjaman dengan bunga yang ringan. Saya pun mengumpulkan lima orang teman dan mengajukan proposal pinjaman kepada bank tersebut. Tentu bank tidak semudah itu menyetujui proposal pinjaman saya. Sambil menunggu persetujuan dari bank, saya mempelajari lagi bisnis QNET dan mencari cara bagaimana mengatur presentasi bisnis sehingga banyak orang ingin bergabung seperti saya. Sungguh bukan hal yang sangat mudah, tetapi saya mampu mengundang lebih dari 200 orang.

Undangan tinggal undangan. Yang hadir di presentasi bisnis saya saat itu hanya lima orang. Perasaan saya campur aduk. Marah, sedih dan malu. Semua orang mengejek dan meninggalkan saya. Keluarga besar saya pun turut menentang saya untuk bergabung di bisnis QNET. Entah mengapa, naluri saya mengatakan ini bisnis yang bagus. Maka saya pun terus berusaha dan tidak menyerah untuk melakukan presentasi bisnis. Hingga empat bulan kemudian saya dikabari bahwa bank menyetujui pinjaman saya. Dalam naluri saya terus mengatakan, saya harus bisa sukses dari bisnis ini. Saya pun pergi ke Surabaya untuk menghadiri presentasi bisnis QNET dan segera mendaftar. Saya mengajak adik saya untuk ikut serta di bisnis ini. Tak lama dari proses pendaftaran saya bergabung di QNET, saya mendengar ada acara V-CON. Saya merasa tertantang untuk mengikutinya. Dengan mengupayakan segala usaha, saya dan adik berhasil pergi ke V-CON yang diadakan di Yogyakarta. Kami pergi dengan bis dan tidur di masjid dekat tempat berlangsungnya acara. Sepulangnya dari V-CON, energi saya seperti terbakar. Saya bergairah untuk menjalankan bisnis ini.


Apa Anda langsung merasakan kesuksesan setelah bergabung dengan QNET?
Tentu saja tidak. Saya mendirikan PT Amoeba Internasional sebagai payung untuk bermitra dengan QNET. Di bawah nama Amoeba saya membesarkan jaringan saya di seluruh pelosok di Indonesia. Amoeba ini yang membantu saya mengatur rencana pemasaran dan jaringan saya. Saya bersusah payah bersama-sama dengan adik saya. Skema kompensasi di QNET itu memang menarik, tetapi harus dikerjakan dengan kerja keras. Misal dari komisi mingguan, apabila kita tidak kerja keras di minggu itu ya tentu saya tidak akan mendapatkan komisi yang banyak. Akan tetapi jika saya bekerja keras di minggu tersebut, hasilnya pasti memuaskan.


Apa yang Anda dapatkan setelah itu?
Saya mulai merasakan perubahan. Dari hasil kerja keras saya di QNET, saya bisa membayar semua hutang orangtua, bahkan saya bisa memberikan bantuan kepada sepupu dan keponakan. Saya berniat untuk membantu orang banyak karena saya tahu hidup susah itu tidak enak. Tidak ada satu orang pun yang ingin hidup sengsara. Untuk itu selama bertahun-tahun saya membantu banyak orang yang menghadapi kebuntuan di bisnis ini, apalagi yang memiliki hutang banyak. Sekarang, mereka sudah sukses dengan menjalankan bisnis QNET. Tidak lagi terjerat hutang bahkan bisa membangun rumah dan memiliki kendaraan sendiri. Perubahan perekonomian saya tidak berarti tanpa membawa perubahan perekonomian teman-teman dan keluarga saya.


Pelajaran utama apa yang Anda dapat dari QNET?
QNET seperti sekolah bagi saya. Di QNET, saya belajar mengubah pola pikir. Saat ini yang selalu saya yakini adalah, selalu ada jalan untuk menemukan kesuksesan, tetapi kesuksesan tersebut tergantung seberapa keras usaha orang itu dalam menemukan jalannya. Kalau dari 24 jam waktu sehari usaha kita hanya 5 jam, ya hasilnya akan menyesuaikan usaha 5 jam Anda. Tetapi jika Anda mengupayakan 16 jam waktu Anda untuk meraih kesuksesan, maka yakinlah hasil yang Anda dapat bisa mampu melampaui waktu 16 jam yang telah Anda berikan. Dengan kerja keras, Anda pasti akan berhasil. Dan tanpa kerja keras, Anda hanya akan menjadi orang yang itu-itu saja.

Komentar

  1. Luar biasa, sebuah perjuangan gemilang. I proud of you.

    BalasHapus
  2. saya rasa para upline Q net harus berhenti merekrut downline dengan tipu-tipu membuka lowongan kerja dengan gaji UMR. Gak tahunya MLM. Kasihan kan mereka masih remaja rata2 dari kampung, disuruh datang jauh2. udah banyak korban. Kalo mau bisnis, yang jujurlah. Kalo dari awal bohong, mana berkah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada kbhongan Dsni .smua org mau Kya smua org mau sukses semua org mau bergelimangan harta .tpi tdak smua org mau keluarkan modal .org Indonesia gemar dengan yg namanya gratis.lntas masuk ke instansi lain dengan mengeluarkan uang ratusan hati dengan gaji di bwah 5 juta knp tidak di jebloskan kpenjra krna pungli. Sntai saja mbak. Pengusaha itu butuh usaha . Kalau tidak mau usaha ya siap2 saja menikmati sisa dr usaha org lain. Alias peras keringat setiap hari.

      Hapus
  3. Nyebut MLM pula tuh. Mbak paham tidak MLM itu apa ? Enterpreneur?? Bnyak bljar tntg hdup ya mbak .biar mbak nya paham !

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi, Aroma yang Menawan

Kopi menjadi suguhan favorit berbagai segmen kalangan untuk beberapa tahun terakhir. Remaja dan dewasa, pria dan wanita dengan rasa yang kini makin beragam jenisnya. Ini juga didukung dengan semakin banyaknya kedai kopi yang bermunculan dengan menawarkan fasilitas yang membuat betah peneguk kopi untuk singgah selama berjam-jam.
Kopi sendiri awalnya ditemukan di Afrika antara 800-850M. Pada saat itu banyak bangsa Afrika terutama Etiopia yang mengonsumsi biji kopi dengan lemak hewan serta anggur. Penemuan biji kopi ini terjadi secara tidak sengaja. Seorang gembala kambing bernama Khalid mengamati gembalaannya tetap terjaga meski sudah larut setelah memakan biji kopi. Ia pun mencoba untuk memakan biji kopi tersebut. Kebiasaan ini pun kemudian terus berkembang sampai akhirnya biji kopi ini menyebar ke Arab dengan teknik penyajian yang lebih maju.
Di Arab sendiri kopi tersebut tidak hanya dimasak, tetapi juga direbus untuk kemudian diambil sarinya. Sayangnya, pada masa ini belum terdapat bud…